Hai,
Satu lagi curhat dari teman yang dilarang orang tuanya untuk jadi penulis.
Dear k Ken,
Aku udah sering jadi sekedar reader disini, tapi gak pernah kasih komentar apa-apa berhubung kagak punya akun disini, tapi yah, sekali ini saya lagi kesel + bosen jadi saya boleh kan tanya ke kk sekalian?
Hm, gampang sih kk, saya suka banget sama buku, bahkan sebelom saya kenal tulis-menulis saya udah keburu nemplok duluan sama buku hehe, karena itu saya berharap kelak bisa bekerja di bidang yang berhubungan dengan buku atau tulis-menulis seperti editor, translator dan selebihnya.
Tapi kk, sayangnya, orang tua dan beberapa dari teman-teman saya tidak setuju. Menurut mereka pekerjaan itu tidak akan membuahkan 'uang' dan yah jabatannya gak naik-naik katanya. Sekarang sih udah mendingan, tapi dulu sih parah banget lho kk...kira-kira kk ada saran gak yah, mungkin supayaorang tua/temen-temen deket bisa ngeliat kalo sebenernya pekerjaan yang berhubungan dengan buku itu, bukanlah sebuah pekerjaan yang bisa dianggap remeh atau tidak bisa menghasilkan uang. Maaf kalo ganggu ya k ken o_o
Re
Hai Re, dan teman-teman lain yang senasib.
Sebenarnya aku pernah membahas soal yang sama di blog ini sebelumnya. Silakan dibaca ya.
So sad but true, profesi menulis di Indonesia memang belum bisa ‘menghidupi’. Oh, yeah, kamu bisa hidup dari menulis, tapi kehidupan semacam apa? Bukan kehidupan mewah tentunya. Pernah tahu ada penulis kaya raya di Indonesia?
Dan benar juga, menulis bukan pekerjaan dengan jenjang karier, yah paling yang ada cuma penulis pemula dan penulis senior (senior dalam arti tua, bukan selalu tambah bermutu tulisannya). Jadi memang rada sulit meyakinkan orang tua soal penulis bisa kaya. Kenyataannya memang begitu, kok.
Tapi kamu benar, menulis bisa menghasilkan uang –soal seberapa banyak itu kan lain lagi--.
Anyway, kurasa kalian setuju bahwa pekerjaan tidak melulu soal uang, tapi juga soal ‘passion’, soal kebahagiaan, kepuasan batin. Jadi, jadilah penulis bila memang kamu mantap dan yakin di situlah kamu akan mereguk kebahagiaan.
Nah, bagaimana jika orang tuamu melarang? Hei, menulis tak butuh sekolah khusus atau alat khusus. Selama kamu masih punya otak di kepala dan selembar kertas atau alat rekam, kamu akan tetap bisa menulis, meski dilarang sekali pun. Kamu bisa menulis di mana pun. Kalau ortu bilang jangan jadi penulis, ya tidak usah membantah, yang penting kamu tetap menulis. Menulis bukan berarti kamu jadi akan jadi penulis, kan? Begitu pula bila kamu mengirim cerpen ke majalah satu atau dua kali, tidak berarti kamu berprofesi sebagai cerpenis, kan?
Untuk kalian yang masih remaja jalan kalian masih panjang. Silakan ‘lihat dunia’ yang dulu. Silakan belajar yang baik agar orang tua bisa melihat kalian adalah anak yang bertanggung jawab. Dengan demikian, mereka akan memberi kalian lebih banyak kebebasan.
Bila sudah dewasa nanti, kalau kamu mau jadi penulis, nah, orang tua bisa ngapain? Memborgol tanganmu? Tidak, kan? Saat dewasa nanti, kalian akan bebas memilih karier yang ingin kalian jalani. Kalau saat itu kamu sudah jadi dokter, tak terlambat juga untuk jadi penulis. Mira W adalah dokter yang jadi penulis. Kalau kamu sudah terlanjur jadi pegawai Telkom, nah, Andrea Hirata juga pegawai Telkom.
Kalian tahu Esti Kinasih –pengarang Teenlit “Fairish” yang sangat terkenal? Dulu dia juga dilarang jadi penulis. Akibatnya ia terpaksa jadi pegawai bank. Tahun 1998, pas krisis moneter, bank tempatnya bekerja tutup. Ia justru berbahagia karena dia bisa berhenti dan full jadi penulis. Memang, kalau sudah rezeki tak akan ke mana.
Selama kalian punya kemauan, jalan akan terbentang lebar. Jadi, nikmati hari ini dan teruslah menulis.